Migrasi

Kata yang cukup tepat menggambarkan kondisi aku saat ini, di mana hampir satu tahun vakum dari menulis blog, dan saat ini berusaha beradaptasi di lingkungan blog yang baru, dan mulai dari awal lagi. Pfft.

Sedih, kesel juga! Ketika dapat kabar bahwa TUMBLR diblog sama Kominfo.  Why why? it really hurt me, Pak!

Seketika mood rusak dan males nulis lagi. Semua tulisan ku di TUMBLR gak bisa diakses oleh khalayak. Yah.. meskipun kita orang masih bisa akses pake VPN sih, cuma rasanya beda aja.

Kata orang, yang lalu biarlah berlalu. Kini buka lembaran baru. Ceileh..

Ya, selamat datang lah di blog baru ini. Semoga masih bisa menyuarakan suara yang tak disuarakan lewat sebuah tulisan.

Wassalam.

Negara Agama?

Di Negara saya lagi menyentuh fenomena kebenaran-klaim mengatasnamakan “agama” yang berujung pada radikalisme, anarkisme, kekerasan bersenjata, konflik yang sama sekali bukan ide ideologi. Buku ini banyak mengungkapkan tentang hal itu, dan buku ini bener-bener keren, serius!

Fyi, ada ungkapan yang sedikit majazi dalam buku Kontroversi Negara Islam karya Khalil Abdul Karim, yaitu Tuhan tidak punya negara, dan Tuhan tidak mungkin negara. Turunnya Islam ke dunia bukan dalam rangka membangun negara, tapi membangun moralitas di tengah masyarakat. Gagasan “Negara Islam” itu hanya utopis dan tidak nyata, sebab era kenabian sudah terputus sejak Rasullah SAW dinobatkan sebagai Nabi akhiruzzaman. Jadi, Islam tidak perlu diformalkan dalam bentuk pemerintahan era kenabian, di mana Kepala Negara sekaligus seorang Nabi. Model negara tersebut pun secara otomatis berakhir dan terputus, dengan pengertian bahwa manusia membangun Negara Sipil yang sesuai dengan rotasi dan kondisi lingkungannya.

Sedikit menyoal perihal yang sedang berkelakar dalam pikiran saya, jika Negara Islam merupakan wadah untuk memformalisasikan syariat Islam, maka pertanyaan sederhananya adalah:
Syariat Islam yang mana?
Syariat dalam tafsir apa?
Untuk konteks apa dan kapan?

Syariat itu sangat beragam, meskipun agama tetap satu. Nah, jika dipaksakan untuk memformalisasikan satu bentuk syariat tentu akan menyempurnakan syariat Islam yang lainnya. Pemaksaan untuk menerapkan sistem Khilafah, disadari atau tidak, hanya akan membenturkan orang Islam dengan ajaran agamanya sendiri, dengan negara dan sesamanya.